Postingan

Eh Ternyata?.....

Gambar
Malam minggu, namun lagi-lagi menyendiri. Nama saya Mule, sudah jomblo 9 tahun, TITIK. Cerita ini berawal pada malam ini, kali pertama-nya saya diajak jalan sama cewek, namanya Keren, dari namanya sih, ceweknya kelihatan feminim dan elegan, looks like-lah untuk anak ABG cabe-cabean zaman ini. Waw saya mulai degdekan bertemu dan   jalan dengan-nya, saya khawatir dengan penampilanku, ke-kakuhanku jalan dengan cewek, dan yang terpenting uang saya cukup atau tidak buat teraktir si Keren, maklumlah this the first time I hang out on Saturday night with a girl. Huft seperti biasanya sebelum ke luar dari rumah, saya mesti izin dulu sama boss besar, yaitu mama, dan malam ini kali pertama saya izin untuk ke luar ber-malam minggu, takutnya mama banyak nanya lagi ke saya. Keluarnya dengan siapa? Pulangnya jam berapa? Tumben bermalam minnggu di luar. Sehingga untuk menghindari pertanyaan mama yang tidak jelas dan panjang lebar, saya urungkan niat untuk meminta izin ke Mama, maka say...

Malam yang Hilang Untuk Jiwa yang Malang

Malam yang hilang untuk jiwa yang malang Angan yang menepi untuk niat perang Mata yang berdahan yang tidak semestinya Semestinya daun yang berdahan Angka 6 yang keluar jadi pemenang Sebenarnya 6 Tapi mata punya dahan Andai daun yang berdahan Maka angka 6 tetap jadi pemenang Tetangga 6 tetap saja menyindir Angka 6 tidak peduli Karena angka 6, angka genap yang memiliki pendamping 

Pantai Bara dan Dua Orang Itu.

Gambar
Berawal dari niat pengambilan data penelitianku di SMAN 10 Bulukumba, maka saya, rendy, rahma, dan ardy berangkat ke Bulukumba pada hari Jumat 13 januari 2014. Kami meninggalkan kota Makassar pada pukul 15.00 WITA, waktu tersebut ngaret 2 jam dari waktu yang direncanakan. Kejadiannya berawal ketika niat pengambilan data penelitianku yang gagal karena disebabbkan oleh beragam faktor. Sehingga niat awal tersebut kami ganti dengan mengunjungi beberapa panatai yang ada di Bulukumba.  Saya menwarkan pantai bira ke mereka, namun kata mereka "bosan dengan bira", lalu kalian pengin mengunjungi pantai apa? tanya saya, mereka menjawab, kami tidak tahu. Kebetulan sebelum saya berangkat ke Bulukumba, malamnya saya bertemu dengan teman saya, dia baru saja mengunjungi pantai bara yang terletak sebelah barat pantai bira, lalu terbesik ide dikepalaku, bagaimana kalau kita ke pantai bara saja? tanya saya. Setuju, kata mereka.  Pukul 2.00 kami meninggalkan Desa Bontobangun. Kami menempuh...

Dunia Hitam

Memakai kacamata hitam itu adalah aku. Dulu! Sekarang! Sudah tergantikan menjadi kacamata silinder Kamu heran! Saya tidak! Karena saya mampu ke luar Pantang dengan kesetiaan Apa? Kamu berkhianat! Tidak! Tapi saya sadar Jadi janji kita bersama yang dulu? Itu janji konyol, menyesatkan! Kamu tidak akan aman Kamu mengancam? Tidak! Berjiwa satria donk. Maju! Kamu aman

Mba’ Indah dan Kutipan itu

Saya ‘ingin sekali menceritakan mengenai kampung halamanku di khalayak umum, mengabdi , meningnkatkan mutu pendidikan, dan  menumbuhkan jiwa kreativitas anak mudah, cita-cita saya’ . sangat sederhana kedengarannya, namun memiliki nilai sosial, pengabdian yang tak ternilai. Kutipan di kalimat diatas selalu saya tulis di dinding-dinding bangunan yang menjulang tinggi dengan harapan suatu saat akan ada yang membacanya, entah itu siapa orangnya. Tidak lupa saya menulis nama kampungku di pojok kanan bawah kutipan diatas ‘BONTOBANGUN’ beserta nama saya. Keluar rumah bukan hal yang biasa bagi saya, tidak sama halnya dengan remaja lain yang semaunya saja keluar rumah, namun saya selangkah keluar dari pintu rumahku, Mba’ indah pasti memarahi saya, bukan karena Mba’ indah galak dan mengintimidasi saya, namun karena dia sangat sayang kepada saya. Mungkin karena Mba’ indah takut kalau saya ditabrak mobil, motor, atau kereta. Tidak banyak bangunan yang saya coret untuk kutipan ...

One Would Have Thought

Nyala lampu sudah seperti nyala lilin, Tetesan embun yang sejuk kini mulai menghangat, hujan hanya sesekali menghampiri, beribu pepohonan kini tumbang 900, dan sudah tidak ada lagi pagi dan malam yang dirasakan, hanya ada gelap panas serta kokokan ayam yang menjadi samar. Aku merasa tak nyaman lagi tinggal di sini, serasa aku disetrika oleh suasana ini. Sepanjang hari pakaian serta handuk selalu basah. Melihat keadaan seperti ini aku mulai menyadari bahwa semua ini tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Sebagai satu-satunya putra daerah yang lanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, aku harus menanggung segala hal yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku dengan masyarakat di sini, hingga ujian terberat harus juga aku lalui, sebab kali pertama aku dan ayah tak sepaham. Aku hanya seorang diri, dalam kesendirian itu aku bertekad untuk menyakinkan ke mereka bawha kita harus menjaga kelestarian hutan tanah kita. Setiap harinya aku ke luar rumah tanpa sahabat la...

UNKNOWN

Dulu tempat aku “gila” di sini. Tapi dia sudah longgar "Layaknya baju yang kusam". Namun perjuangan untuk bertahan masih ada harapan. Masih tersimpan berjuta keyakinan dalam diri aku. Aku tahu mereka kuat. Untuk kali ini bukan waktu yang bicara, karena tak dapat. tapi tekad dan kerja keras yang menunjukkan jalan menuju kalimat yang indah. Tak ada lagi ucapan yang menangis. Sekarang saatnya kepalkan tangan kalian, dan buktikan kalau kalian mampu. Kalau ada parit di hadapan kalian maka ketahuilah agar kalian tidak terjatuh. Karena sesungguhnya parit itu hambatan yang mudah di lalu oleh kamu yang ikhlas dan sabar.